Atletico Dikalahkan Barcelona karena Kurangnya Konsentrasi pada Pertahanan

Posted on
Foto: Denis Doyle/Getty Images Foto: Denis Doyle/Getty Images

Jakarta – Atletico Madrid gagal menuntaskan misi balas dendam mereka terhadap Barcelona setelah sempat disingkirkan pada babak semi-final Copa del Rey musim ini. Dalam lanjutan La Liga pekan ke-24 yang dimainkan di Vicente Calderon, Minggu (26/2/17), Atletico ditumbangkan dengan skor 1-2 oleh tamunya tersebut.

Satu-satunya gol Atlético di laga ini diciptakan oleh Diego Godin pada menit ke-70. Sedangkan kedua gol Barcelona disumbangkan oleh Rafinha dan Lionel Messi masing-masing pada menit ke-64 dan 86.

Dengan hasil ini, keinginan Atlético untuk menjauh dari kejaran Real Sociedad yang berada di peringkat kelima pun gagal terealisasikan. Anak asuh Diego Simeone masih belum aman berada di zona Liga Champions. Sementara bagi Barcelona, hasil ini membuat mereka semakin percaya diri untuk terus bersaing dengan Real Madrid dan Sevilla dalam meraih gelar La Liga musim ini.

[Baca Juga: Kalahkan Atletico, Barca Sementara Gusur Madrid]

Pada pertandingan ini, Diego Simeone tetap menurunkan skema 4-4-2 andalannya. Sementara, Luis Enrique secara tak terduga melakukan perjudian dengan mengganti formasi dasar 4-3-3 menjadi 3-4-3 berlian.

Keempat gelandang Barcelona diisi oleh Sergio Busquets, Sergi Roberto, Andres Iniesta, dan Lionel Messi. Enrique pun cukup berani membangkucadangankan Ivan Rakitic dan Jordi Alba yang memiliki fleksibilitas untuk meredam kecepatan yang dimiliki oleh para pemain Atlético.

Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, sisi kanan pertahanan Barcelona menjadi daerah yang sering diincar oleh Atlético pada laga tersebut. Mudahnya Sergi Roberto untuk ditembus, juga sering telatnya Rafinha yang ditempatkan sebagai sayap kanan untuk turun membantu pertahanan, seringkali membuat Gerard Pique, yang bermain sebagai bek yang ditempatkan di sebelah kanan, harus berjibaku dibuatnya.

Atletico Dikalahkan Barcelona karena Kurangnya Konsentrasi pada Pertahanan

Pola serangan Atlético yang sering bertumpu pada sisi kiri – Sumber: WhoScored

Sementara dalam hal menyerang, Barcelona sering kali memusatkan terhadap Neymar di sisi kiri. Enrique pun cukup jeli dalam hal ini, dengan kemampuan duel Sime Vrsaljko yang tidak sebaik Juanfran, membuat pemain asal Brasil tersebut mampu beberapa kali mengreasikan peluang di laga ini. Neymar sendiri berhasil terpilih sebagai pemain terbaik di akhir pertandingan setelah sukses mencatatkan tiga umpan kunci dan sepuluh dribel sukses.

Barcelona Terbantu oleh Gemilangnya Samuel Umtiti dan Ter Stegen

Dengan skema tersebut, Barcelona sebetulnya tidak bermain lebih baik dari Atlético. Walau berhasil unggul penguasaan bola dengan tingkat persentase 64% berbanding dengan 36% yang menjadi milik Atlético, namun pada kenyataannya masih banyak celah yang berhasil dimanfaatkan oleh pasukan Los Rojiblancos untuk menusuk pertahanan Blaugrana yang dijaga oleh Gerard Pique, Samuel Umtiti, dan Jeremy Mathieu.

Keberanian Enrique memarkir Jordi Alba sebetulnya sangat menguntungkan Atlético pada laga ini. Belum lagi dengan keputusan sang pelatih yang menempatkan Mathieu di area tersebut. Mathieu sendiri, jika dibandingkan dengan para pemain belakang yang dimiliki oleh Barcelona saat ini, sering kali menjadi incaran lawan-lawan Barcelona sebelumnya seiring dengan penurunan performanya yang terbilang drastis.

Ketika buntu menyerang dari sisi kiri, Atlético pun sebetulnya sering kali memanfaatkan ketidakhadiran Alba di sisi kanan penyerangannya. Terhitung, Atlético berhasil melepaskan enam umpan silang dari area tersebut.

Atletico Dikalahkan Barcelona karena Kurangnya Konsentrasi pada Pertahanan

Grafis penampilan Samuel Umtiti – Sumber: FourFourTwo Stats Zone

Namun beruntung, Barcelona memiliki Umtiti dan Ter Stegen yang bermain baik. Di laga itu, Ter Stegen, setidaknya, berhasil membuat tiga penyelamatan penting. Begitu pun dengan kesolidan Umtiti yang memenangkan tujuh duel udara, tujuh intersep, satu sapuan, dan dua blok, yang membuat gawang Barcelona aman kebobolan dari situasinya permainan terbuka.

Agresivitas Antoine Griezmann yang berhasil mencatatkan lima tembakan pun seolah tidak ada artinya di pertandingan ini.

Video cuplikan penampilan Samuel Umtiti – Diolah oleh Ivan Hadyan

Pertahanan Atlético Madrid Kehilangan Fokus

Dengan target meraih kemenangan, Diego Simeone menginstruksikan para pemainnya untuk tampil keluar menyerang. Garis pertahanan pun ia pasang tinggi, dengan tujuan tetap meredam serangan dari atas dengan melakukan pressing ketat ketika Barcelona melancarkan serangan balik cepat.

Akan tetapi, dengan diterapkannya skema tersebut, hal itu pun sering kali meninggalkan celah di lini pertahanan Atlético, terutama di sisi kanan dan kirinya yang ditempati oleh Vrsaljko dan Filipe Luis. Keduanya sering kali terlalu fokus terhadap penyerangan, padahal di kedua sisi tersebut Barcelona menempatkan Neymar dan Rafinha yang dikenal memiliki kecepatan.

Atletico Dikalahkan Barcelona karena Kurangnya Konsentrasi pada Pertahanan

Grafis rata-rata posisi dan pola operan Barcelona – Sumber: Opta, via @11tegen11

Padahal secara skematis, melalui perubahan formasipun kita masih melihat Barcelona menyerang dengan cara yang sama, yaitu melalui sayap, terutama sayap kiri. Dari gambar di atas, kita bisa melihat hampir tidak ada pembangunan serangan Barcelona yang melalui lini tengah.

Tapi Atlético tidak berhasil mengantisipasi hal ini. Kedua gol yang diciptakan oleh Barcelona pada akhirnya tercipta karena hilangnya fokus di lini pertahanan Atlético. Gol pertama yang dicetak oleh Rafinha terjadi karena keputusan Filipe Luis yang mencoba untuk mengejar Luis Suarez. Suarez sendiri sebetulnya telah mendapatkan tekanan dari Godin. Hal itu pun mampu dengan cerdik dimanfaatkan oleh Rafinha yang memutuskan untuk masuk di antara Luis dan Gabi sebelum melepaskan tembakan.

Begitu pun dengan gol kedua yang dicetak oleh Lionel Messi. Hal itu terjadi setelah keempat pemain Atletico terfokus terhadap pergerakan Suarez. Sementara Messi yang telah berdiri di dalam kotak penalti luput dari penjagaan. Buruknya koordinasi yang terjadi di lini pertahanan Atlético pun mampu dimanfaatkan oleh Messi, walaupun Stefan Savic telah mencoba untuk menutup ruang tembak pemain Argentina tersebut.

Empat pemain bertahan Atlético yang mencoba menghentikan pergerakan Suarez secara bersamaan; Koordinasi buruk antara Filipe Luis dan Fernando Torres membuat Messi bisa dengan leluasa menerima bola dari Suarez

Kesimpulan

Permainan yang diperagakan oleh kedua kesebelasan sebetulnya cukup berimbang dengan menghadirkan duel yang cukup ketat di lini tengah. Bagi Atlético, apa yang diinstruksikan oleh Diego Simeone pun sebetulnya telah diaplikasikan dengan cukup benar oleh anak asuhnya tersebut. Hanya saja, dengan solidnya pertahanan Barcelona, membuat satu-satunya gol yang mampu mereka ciptakan pun hanyalah melalui situasi bola mati.

Sementara bagi Barcelona sendiri, kredit patut diberikan kepada Enrique yang dengan berani merubah skema di situasi yang bisa dikatakan cukup riskan untuk dilakukannya seperti pada pertandingan ini.

Namun sebenarnya, dengan skema tiga bekpun kita masih melihat Barcelona menyerang dengan cara yang sama, yaitu melalui sayap, dan masih terlalu fokus pada sayap kiri. Walau mampu meraih kemenangan, masih terdapat PR besar yang harus diperbaiki oleh Blaugrana.

Karena pada kenyataannya, selain serangan sayap yang mudah terprediksi, mereka memang sering kali mudah untuk ditembus. Hal itu pun tidak terlepas dari gap yang terlihat sering berjauhan yang terjadi di antara Busquets, Roberto, dan Iniesta di lini tengah.

======

Penulis Muhammad Firzarichsan dari Pandit Football Indonesia, beredar di Twitter melalui akun @Firzarichsan

(din/din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *