Buah Simalakama Perubahan Strategi Pioli

Posted on
Foto: REUTERS/Alessandro Garofalo Foto: REUTERS/Alessandro Garofalo

Jakarta – Inter Milan harus puas main imbang 2-2 dengan AC Milan usai unggul dua gol di babak pertama. Pergantian strategi sang pelatih Stefano Pioli jadi alasannya.

Pertandingan Derby della Madonnina berakhir dengan skor 2-2 di Stadion Giuseppe Meazza, Sabtu (15/4). Kedudukan itu mengandaskan kemenangan Internazionale Milan yang sudah di depan mata. Sebab gol penyama kedudukan AC Milan berhasil dicetak beberapa detik sebelum pertandingan berakhir.

Pelakunya adalah Cristian Zapata yang menyontek bola setelah menerima umpan dari Carlos Bacca pada menit ke-97.. Padahal sebelumnya Milan harus menunggu hingga menit ke-83 ketika Alessio Romagnoli mencetak gol.

Inter unggul dua gol di babak pertama lewat Antonio Candreva pada menit ke-36 dan Mauro Icardi pada menit ke-44. Kesebelasan berjuluk I Nerrazzuri itu pun harus menunda kemenangan atas rival sekota yang terakhir kali diraih 12 Maret lalu.

Sebetulnya Inter tampil lebih siap pada laga ini karena tidak ada pemain yang absen karena cedera maupun hukuman kartu. Stuasi tersebut berbanding terbalik dengan Milan yang harus tampil tanpa Andrea Bertolacci, Giacomo Bonaventura, Ignazio Abate, Mario Pasalic dan Riccardo Montolivo.

Namun absennya pemain-pemain tersebut tetap membuat Vicenzo Montella, pelatih Milan, untuk tetap memakai skema 4-2-3-1 saat menyerang meski dalam formasi dasar menggunakan 4-3-3 seperti pada pertandingan sebelumnya melawan Palermo.

Hanya saja gaya pressing mereka sedikit berubah pada babak pertama. Namun perubahan yang lebih agresif pada babak kedua, menjadi kunci Milan bisa mengimbangi Inter yang sama-sama menggunakan formasi 4-2-3-1.

Foto: Pandit Football Indonesia

Performa Inter Menurun setelah Turun Minum

Tekanan yang dilancarkan Inter menjadi melunak sejak babak kedua berjalan. Pada babak pertama, tekanan Inter sudah dilancarkan sejak Milan menguasai bola di sepertiga akhir pertahanannya sendiri. Cara pressing Inter mengubah formasi 4-2-3-1 menjadi 4-1-4-1. Icardi menjadi pemain tunggal yang melancarkan pressing ketat dan agresif ketika Milan melakukan build up serangan dari belakang.

Mengingat ketika Milan melakukan build up serangan hanya menyisakan dua bek tengahnya. Sementara empat pemain di belakang Icardi yang melakukan pressing adalah Antonio Candreva, Geoffrey Kondogbia, Joao Mario dan Ivan Perisic.

Empat pemain itu pun melakukan pressing kepada Icardi gagal mendapatkan bola dari lawan. Tidak tanggung-tanggung, Inter sampai mengutus dua pemain sekaligus kepada satu pemain Milan yang sedang menguasai bola.

Tujuannya agar Inter bisa mendapatkan bola secepat mungkin sehingga langsung melancarkan serangan cepat. Taktik tersebut cukup ampuh membuat Milan kocar-kacir di wilayahnya sendiri. Mattia De Sciglio, full-back kanan Milan, pun tidak bisa tenang membantu serangan karena harus transisi bertahan dengan cepat untuk membantu kedua bek tengah yang tersisa.

Intensitas pressing Inter di wilayah lawan menjadi berkurang setelah babak pertama usai. Tekanan yang dilancarkan Inter sudah jarang dilakukan sejak di wilayah Milan lagi, melainkan ketika bola sudah masuk ke wilayahnya sendiri.

Berkurangnya intensitas pressing dari Inter itu membuat Milan semakin leluasa melakukan build-up dari lini belakang. Dampak lainnya adalah Milan mampu menaikkan garis pertahanannya semakin tinggi secara perlahan. Hal itulah yang membuat Inter menjadi terjebak di wilayahnya sendiri sejak babak kedua dan Milan terus bisa membuat peluang serta menyamakan kedudukan.

Foto: Pandit Football Indonesia
Foto: Pandit Football Indonesia
Grafis perbandingan operan AC Milan selama babak pertama (atas) dan babak kedua (bawah). Babak kedua menunjukan bahwa Milan lebih sering melepaskan umpan ke sepertiga akhir pertahanan Internazionale Milan. (Sumber: Squawka)

Pergantian Formasi AC Milan yang Mengurung Inter Milan

Meningginya pertahanan Milan diselingi dengan masuknya Manuel Locatelli menggantikan Juraj “Kuco” Kucka pada menit 57′. Adanya Locatelli membuat Milan lebih nyaman melakukan build-up serangan dari belakang maupun tengah.

Mengingat Inter menurunkan intensitas pressing di wilayah lawan dan menurunkan garis pertahanannya. Pioli mungkin berpikir jika permainan yang lebih bertahan bisa menjaga keunggulannya, tapi nyatanya perubahan sistem itu membuat Milan lebih leluasa melakukan build-up serangan dari belakang maupun tengah.

Masuknya Locatelli tentu saja membantu sirkulasi antara lini belakang dengan depan. Mengingat Milan mulai mengandalkan umpan-umpan panjang dari tengah sejak tertinggal dua gol pada babak pertama. Kebebasan yang didapatkan Locatelli pun memudahkan pemain sayap Milan yang sebelumnya kekurangan suplai bola karena terus menerima pressing dari Inter.

Namun upaya Locatelli masih buntu karena Inter tetap bagus melancarkan pressing di kedua sisi lapangan. Yuto Nagatomo dan Perisic saling mengisi ketika melancarkan pressing di sisi kiri, begitu pun dengan Candreva dan Danilo D’Ambrosio di sisi kanan.

Hal itulah yang membuat Montella memasukan Gianluca Lapadula pada menit ke-75 dan mengubah formasi dasar 4-2-3-1 menjadi 4-4-2. Perubahan itu agar Locatelli punya banyak pilihan ketika melepaskan umpan jauh ke kotak penalti.

Sebelumnya, Locatelli menghindari umpan langsung ke kotak penalti karena Bacca tidak berkutik dikawal Gary Medel yang menjadi bek tengah Inter pada pertandingan tersebut. Alhasil, Locatelli lebih pede melepaskan umpan langsung ke kotak penalti karena Lapadula membantu Bacca mendapatkan ruang. Tapi sistem itu masih belum berhasil bagi Milan untuk memperkecil ketertinggalan terlebih dahulu.

Foto: Pandit Football Indonesia
Grafis umpan Manuel Locatelli. Sumber: Squawka.

Gol Milan baru terjadi ketika mulai menerapkan garis pertahanan semakin tinggi atas masuknya Lucas Ocampos menggantikan Davide Calabria.

Keberadaan Ocampos membuat Montella mempertinggi garis pertahanannya dengan formasi 3-5-2. Pada formasi itu De Sciglio ditarik menjadi bek tengah bersama Romagnoli dan Zapata.

Sementara Ocampos beroperasi sebagai wing-back kiri. Alhasil, semakin agresif dan tingginya garis pertahanan Milan membuat Inter semakin terkurung di wilayahnya sendiri. Milan pun semakin mendapatkan banyak peluang di pertahanan Inter dan mencetak dua gol penyama kedudukan.

Gerard Deulofeu dan Mattia De Sciglio yang Terpisah

Seandainya Pioli tidak mengubah sistem pressing kesebelasannya secara mencolok, mungkin Inter masih bisa mengakhiri laga dengan kemenangan 2-1. Sebab sistem pressing mereka membuat Milan kesulitan mengemembangkan permainannya selama babak pertama. Tekanan yang dilancarkan Inter, dimaksudkan agar serangan sayap Milan tidak berkutik.

Kekompakan Yuto Nagatomo dan Perisic di sisi kiri membuat Suso yang menjadi winger kanan Milan tidak bisa berbuat banyak. Begitu pun dengan kontribusi Calabria tidak menjadi apa-apa ketika naik membantu serangan.

Hal yang sama terjadi di sayap kiri Milan karena Gerard Deulofeu seperti bekerja sendirian selama babak pertama karena De Sciglio terpaksa lebih sering melakukan transisi bertahan atas keberhasilan Inter mencuri bola melalui pressing ketat dan agresif. Padahal De Sciglio merupakan bagian dari serangan sisi kiri Milan dengan mode menyerang 2-4-3-1.

Tapi apiknya D’Ambrosio dan Candreva pada saat itu membuat De Sciglio lebih sering waspada sehingga lebih sering turun ke belakang membantu dua bek tengahnya. Kedisiplinan De Sciglio dalam transisi bertahan itulah yang membuat kecenderungan serangan Inter kepada Perisic di sisi kiri.

Foto: Pandit Football Indonesia
Grafis tekel Internazionale Milan selama babak pertama yang lebih banyak dilakukan di sayap dan wilayah AC Milan. Sumber: Squawka.

Di area itulah Calabria tidak seperti De Sciglio dalam melakukan transisi bertahan. Kecepatan dan keuletan Perisic juga unggul segala-galanya dari Calabria. Tapi gol pertama Inter bukan dihasilkan dari sisi kiri, melainkan buah dari formasi pressing 4-1-4-1 yang menyimpan Roberto Gagliardini di depan empat bek dan di belakang empat gelandang.

Pada saat itu, tekanan Inter yang membuat garis pertahanannya meninggi dan merendahkan garis pertahanan Milan, membuat Gagliardini leluasa menjadi pusat build-up serangan Inter.

Kemudian Gagliardini melepaskan umpan panjang yang berhasil dikonversi Candereva menjadi gol. Justru kecenderungan serangan sisi kiri Inter terjadi pada gol keduanya. Kecepatan dan keuletan Perisic membuktikan dengan mengelabui Calabria sehingga bisa melepaskan umpan silang yang mampu dicocor Icardi menjadi gol.

Selain pressing, keunggulan Inter pada babak pertama adalah mampunya Gary Medel mengawal Bacca dengan baik selama babak pertama. Kemudian Medel dijadikan gelandang bertahan pada babak kedua dan Bacca menjadi lebih leluasa sehingga mampu menyumbangkan asis untuk Zapata.

Kesimpulan

Milan yang terlalu sabar dalam perebutan bola di wilayahnya sendiri pada babak pertama membuat dua gol bersarang di jala mereka. Sebab hal itulah yang membuat Inter bisa menaikan garis pertahanannya sehingga dua bek tengahnya ikut andil dalam build-up serangan dari tengah. Hasilnya, umpan Gagliardini melalui umpan panjangnya menjadi kerugian Milan yang pertama.

Tapi perubahan sistem pressing Inter pada babak kedua menjadi bumerang tersendiri. Perubahan itulah yang membalikan situasi Milan yang justru seperti Inter pada babak pertama, yaitu menguasai lini tengah dan melakukan build-up di sana atas garis tinggi pertahanannya yang mengurung Inter di wilayahnya sendiri.

(mrp/mrp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *