Keindahan Sepakbola yang Berhasil Pirlo Lukiskan Melalui Kata-kata

Posted on
Andrea Pirlo di tim nasional Italia (Foto: Claudio Villa / Getty Images) Andrea Pirlo di tim nasional Italia (Foto: Claudio Villa / Getty Images)

Jakarta – Saya tahu Andrea Pirlo adalah salah satu pemain yang paling genius yang pernah ada di dunia. Pemain asal Italia ini berusia 38 tahun tepat hari ini, 19 Mei 2017. Meskipun sudah tua untuk ukuran pemain sepakbola, saya tetap menganggapnya sebagai salah satu pemain genius.

Kejeniusannya di atas lapangan ternyata bisa ia tuliskan juga di dalam bukunya yang berjudul I Think Therefore I Play (atau Penso quindi gioco dalam versi asli Bahasa Italia). Ia menulisnya bersama dengan Alessandro Alciato yang merupakan seorang jurnalis. Buku ini sudah terbit pada 2013 namun terjemahan versi Bahasa Indonesia-nya baru beredar pada Juli 2016.

Pirlo biasa menunjukkan sepakbola elegannya di atas lapangan terutama melalui visi permainannya. Semuanya ia lakukan dengan sunyi, tanpa berkata-kata, seolah semua yang ia lakukan (tanpa harus ia katakan) adalah hasil dari pemikiran jeniusnya.

Sebuah konsep berpikir ini tentunya membuat saya, dan juga mungkin kalian, sangat penasaran untuk membaca bukunya. Tidak heran kenapa bukunya memiliki judul yang sangat sesuai dengan gaya permainannya: Aku berpikir maka aku bermain. Karena tanpa konsep pemikiran jeniusnya, Pirlo bukanlah Pirlo.

Analogi yang Selalu Pas dari Bab Satu sampai Bab 20

Kesuksesan Pirlo bermain sepakbola sangat dicerminkan oleh kesuksesan AC Milan di Liga Champions UEFA dan juga tim nasional Italia di Piala Dunia FIFA. Namun, bagi banyak pendukung Milan, Italia, bahkan Juventus, Internazionale Milan, atau siapapun yang mengetahui sosok Pirlo, kesuksesan mantan pemain Brescia ini sangat ditunjukkan oleh seni permainannya.

Dalam perspektif kesenian, mungkin permainan Pirlo itu seindah, atau bisa jadi lebih indah, dari lukisan The Birth of Venus karya Sandro Botticelli.

Memang tidak ada statistik yang bisa menggambarkan kejeniusan dan keindahan permainannya. Bahkan rekaman video juga mungkin tidak menunjukkan itu. Tidak seperti, misalnya, bagaimana kita mendefiniskan keindahan gocekan-gocekan Ronaldinho.

Kamu mungkin pernah mendeskripsikan sesuatu sebagai “hal yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata” (padahal mungkin bisa dilukiskan dengan kuas cat dan kanvas, ya?). Tapi buku I Think Therefore I Play ini adalah semua yang saya harapkan dari permainan Pirlo yang dilukiskan melalui kata-kata.

Dari bab pertama sampai ke bab 20, ia bersama dengan Alciato berhasil melukiskan keindahan tersebut melalui kata-kata. Ia bahkan menjelaskan kenapa ia berhenti pada bab 20, bukan bab 21, padahal angka 21 adalah angka favoritnya.

“Ayahku lahir tanggal 21. Itu juga tanggal pernikahanku sekaligus tanggal debutku di Serie A. Angka tersebut menjadi nomor punggungku sejak awal dan aku tidak akan pernah melepaskannya. Nomor itu membawa keberuntungan untukku, dan itulah alasan mengapa buku ini berhenti di bab 20,” tulis Pirlo.

Keindahan Sepakbola yang Berhasil Pirlo Lukiskan Melalui Kata-kataJersey Andrea Pirlo (Foto: Claudio Villa/Getty Images)

Kemudian fakta bahwa ia mengawali bab pertama bukunya itu dengan kalimat “sebuah pulpen” juga membawa keindahan tersendiri. Sebuah pulpen yang ia maksud adalah pulpen mahal bermerek Cartier berlogo AC Milan.

Di bab pertama tersebut, “pulpen” tersebut ia gunakan untuk menggambarkan kontraknya yang habis di Milan. Meskipun ia masih ingin bermain di Milan, namun Massimiliano Allegri (pelatih Milan saat itu) menganggapnya sudah tidak bisa memberikan kontribusi yang besar, sehingga hal tersebut adalah yang membawanya menuju Juventus.

“Aku senang beranggapan jika bab berikutnya (bab 21) terdiri dari halaman-halaman kosong, menunggu untuk diisi dengan kisah dan pengalaman lainnya yang akan datang. Dan satu hal yang pasti – aku sudah punya pulpen sendiri,” tutupnya di buku tersebut.

Refleksi Emosi yang Tertuang dalam Kata-Kata

Bukan hanya pada bab pertama dan bab terakhir tersebut, tapi sepanjang membaca buku ini, saya terbawa refleksi yang jelas yang menggambaran emosinya, meskipun wajahnya sehari-hari seolah tanpa ekspresi.

Dari perasaan dikhianati dan cemburu, yang membuatnya menjadi dewasa dan semakin bertanggungjawab untuk merangkul talentanya; sampai gambarannya mengenai ketidakadilan masyarakat yang membuat orang lain bersalah; hal-hal ini berhasil memunculkan pemikirannya yang genius dan indah.

Buku ini berhasil membuat Pirlo bukan hanya didefinisikan sebagai pemain sepakbola, tapi juga sebagai pelatur cerita, seorang guru, seorang pembaca puisi, dan bahkan seorang filsuf.

Misalnya saja, saat merefleksikan kekalahannya dari Liverpool di Istanbul pada final Liga Champions 2005, pada bab 12 ia menulis: “Aku tidak berani menatap cermin, berjaga-jaga jika ternyata bayangan di sana meludahiku” dan “Aku tidak bisa tidur dan bahkan ketika aku terlelap, aku terbangun karena mimpi buruk: aku ini menjijikkan.”

Keindahan Sepakbola yang Berhasil Pirlo Lukiskan Melalui Kata-kataAndrea Pirlo, Istanbul 2005 (Foto: AFP PHOTO / FRANCOIS MARIT)

Saat di final Liga Champions 2007, yang merupakan kesempatan emas bagi Milan untuk balas dendam kepada Liverpool, dan ternyata Milan berhasil balas dendam, tapi Pirlo tetap tidak bisa melupakan Istanbul: “Orang bilang balas dendam akan lebih nikmat jika menunggu waktu yang tepat, tapi masih ada sedikit rasa panas yang tertinggal pada tahap ini… kami tidak melupakan rasa sakitnya.”

Pirlo juga menutup bab Istanbul tersebut dengan kata-kata “puitis”: “Selalu ada pelajaran dari kejadian-kejadian terburuk. Kita semacam wajib menggali lebih dalam dan menemukan secercah harapan dari mutiara kebijaksanaan. Kamu mungkin berhasil menemukan kata-kata elegan untuk disimpan sehingga perjalanan tersebut tidak terasa tidak terlalu pahit. Aku sudah mencoba mencari hikmah di balik Istanbul dan sejauh ini aku belum menemukan kata selain ‘brengsek’.”

Gambaran Pemikiran Kritis yang Terkekang di dalam Kepala

Sebagian besar buku ini berhasil mempresentasikan Pirlo sebagai karakter yang berbeda dari yang kita lihat di atas lapangan, seolah kita berhasil masuk ke dalam otaknya. Melalui kemampuan berpikir dan berceritanya (yang mengejutkan), ia juga berhasil menyampaikan pemikiran kritisnya terhadap segala sesuatu.

Ia menyebut PlayStation sebagai penemuan terhebat sepanjang masa setelah roda. Melalui analogi PlayStation-nya ini, ia berhasil menggambarkan sosok Josep Guardiola yang berhasil memainkan sepakbola yang “mengawinkan realitas maya dengan kehidupan nyata”. Singkatnya, kita menyebutnya possession football.

Pirlo juga menggambarkan adu penalti sebagai sebuah “prosesi pengorbanan yang meminta kita menjadi tumbal” karena satu penendang akan melawan semua orang (termasuk penonton) sementara seorang kiper mencoba menyelamatkan kesebelasannya, dan bahkan bangsanya, ketika ia menggambarkan adu penalti di final Piala Dunia 2006.

Pemain yang sekarang bermain di New York City FC ini juga menyebut bahwa tendangan cungkilannya (panenka) pada penalti saat melawan Inggris di perempat-final Piala Eropa 2012 adalah murni kalkulasi yang pada saat itu merupakan pilihan paling aman dan paling produktif. Sulit dipercaya.

Beberapa pemain, rekan, lawan, dan suporter, ikut diselipkan dalam pembahasan-pembahasan bukunya ini. Mulai dari cedera Alessandro Nesta, teror kepada Danielle De Rossi, kagarangan Gennaro Gattuso, kejeniusan Antonio Conte, klenik Filippo Inzaghi, kecocokannya dengan Andrea Agnelli, Sir Alex Ferguson yang menodai kesucian sepakbola melalui Park Ji-Sung, sampai perilaku rasialisme, curang, dan keserakahan pemilik kesebelasan.

Salah satu pemikiran kritisnya juga ia tunjukkan saat mengomentari teknologi tayangan ulang di sepakbola. Ia berpikir bahwa sentimen para penonton kepada wasit membuat wasit harus terus hadir sebagai kambing hitam. (Selengkapnya: Mengangkat Derajat Wasit (Serie A) Lewat Video Tayangan Ulang)

“Menghakimi orang lain selalu menyenangkan. Mengintrospeksi diri sendiri lebih sulit,” tulisnya.

***

Sepanjang buku sederhana ini, saya benar-benar ditunjukkan mengenai kejeniusan seorang Andrea Pirlo. Bersama Alessandor Alciato, Pirlo berhasil menunjukkan juga bakat indah yang ditampilkan di seluruh kata-kata yang mudah dipahami.

Sementara di lapangan, Pirlo memanfaatkan ruang kosong dengan visi bermainnya dengan seadanya, tanpa harus pamer; namun setiap bab dalam buku ini justru menunjukkan sebaliknya.

Melalui buah pemikirannya ini, Pirlo sebenarnya berbakat untuk menjadi seorang filsuf. Kata-katanya berhasil melukiskan keindahan sepakbola.

Keindahan yang dimaksud di sini juga bukan hanya soal sepakbola menyerang, karena Pirlo berpikir pertahanan juga memegang peranan penting. Ia menganggap pemain-pemain seperti Franco Baresi, Mauro Tasotti, Nesta, dan Thiago Silva adalah “tameng manusia yang melindungi kesalahan pemain-pemain lain.”

Sebagai penutup, kita mungkin sah-sah saja jika memiliki pemikiran kalau Pirlo adalah pemain terbaik dunia. Ya, saya tahu masih ada Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo yang bergantian meraih Bola Emas (penghargaan untuk pemain terbaik dunia). Dan ya, saya juga tahu Pirlo sudah berusia 38 tahun hari ini (selamat ulang tahun ya).

Keindahan Sepakbola yang Berhasil Pirlo Lukiskan Melalui Kata-kataAndrea Pirlo, di New York City FC tahun lalu (Foto: Getty Images/Mike Stobe)

“Aku pikir trofi Piala Dunia dan Liga Champions lebih berharga daripada Bola Emas, tapi aku diam saja. Jika aku buka mulut, aku harus mengatakan bahwa aku telah memenangkan keduanya sementara Messi belum pernah menjuarai Piala Dunia. Aku pasti dianggap arogan dan itu bukan gayaku.”

Jadi, mana yang lebih indah, lukisan The Birth of Venus karya Sandro Botticelli atau umpan yang dibuat Pirlo?

—–

* Penulis biasa menulis soal sport science untuk situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @dexglenniza

(krs/krs)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *