Kualitas, Mentalitas, dan Loyalitas Leonardo Bonucci

Posted on
Foto: REUTERS/Giorgio Perottino Foto: REUTERS/Giorgio Perottino

Turin – Juventus saat ini telah kembali ke habitatnya sebagai kesebelasan kuat di Eropa, bahkan mungkin dunia. Terperosok ke Serie B usai didakwa terlibat dalam skandal calciopoli 2006 tak membuat mereka terus terbenam. Bahkan 10 tahun setelah kembali ke Serie A, Juventus telah kembali menjadi kesebelasan kandidat kuat juara Liga Champions.

Dari sisi pelatih, tak dimungkiri peran Antonio Conte menjadi sosok di balik kebangkitan Juventus. Karena pada musim pertamanya menangani Juventus (2011/2012), ia langsung memberikan scudetto Serie A. Tiga tahun melatih di Juventus, tiga scudetto juga ia berikan, plus dua trofi Piala Super Italia.

Namun jika dari sisi pemain, siapakah pemain yang paling berjasa besar atas kembalinya Si Nyonya Tua menjadi raja di Italia? Tanpa mengesampingkan nama Gianluigi Buffon, menurut saya, pemain yang paling penting dalam skuat Juventus dalam enam tahun terakhir adalah sang bek, Leonardo Bonucci. Bonucci adalah poros serangan Juventus dan juga salah satu pemain yang memahami arti grinta yang identik dengan Juventus.

Figur Penting dalam Skema Tiga Bek Juventus

Bonucci sudah ada dalam skuat Juventus sebelum Antonio Conte datang. Pada 2010, ia dibeli dari Bari dengan nilai transfer sekitar 15 juta euro.

Di awal kedatangannya, Bonucci sempat disebut-sebut sebagai transfer flop. Blunder kerap dilakukannya. Apalagi kedatangan Andrea Barzagli dari Wolfsburg pada musim dingin 2011 dianggap sebagai bentuk ketidakpuasan Juventus terhadap Bonucci.

Kritik terhadap Bonucci saat itu memang cukup deras mengalir. Hal ini dikarenakan ia merupakan pembelian pertama sekaligus termahal Juventus yang memulai era barunya bersama presiden Andrea Agnelli. Kemudian pada musim pertamanya, bersama pelatih Juve saat itu, Luigi Delneri, Juventus harus puas menempati posisi tujuh klasemen.

Bonucci sendiri sadar bahwa ia sedang mendapatkan tekanan tinggi dari pendukung Juventus. Ia pun sadar bahwa ia harus segera berkembang. Meski menjalani musim yang berat, Bonucci tetap berusaha profesional dan menunjukkan perkembangannya sebagai pemain.

“Saya bisa mengerti beberapa kritik, diskusi, amarah, atau gerutu yang mengarah pada saya karena selalu ada ruang untuk berpikir dan memutuskan. Ada hal yang lebih penting dalam hidup daripada melakukan blunder di lini belakang,” kenang Bonucci, seperti yang dilansir Sportskeeda, pada 2016 lalu.

Tekadnya untuk menjadi pemain yang lebih baik disambut baik oleh Conte yang ditunjuk menggantikan Delneri pada musim panas 2011. Conte tak ragu memainkan Bonucci yang saat itu berusia 23 tahun untuk diduetkan dengan Barzagli di jantung pertahanan meski Bonucci masih sering melakukan beberapa kesalahan. Conte bahkan mulai sering menempatkan Giorgio Chiellini sebagai bek kiri ketimbang bek tengah untuk memberikan kesempatan pada Bonucci.

Kemudian datanglah momen yang menjadi titik di mana Bonucci menunjukkan kelasnya. Saat itu, Juventus menghadapi pekan ke-11 Serie A. Pada pekan ke-10, mereka baru saja menang 2-1 melawan Inter. Hanya saja kemenangan tersebut harus mengorbankan Claudio Marchisio yang terkena kartu kuning. Kartu kuning tersebut membuatnya harus absen melawan Napoli di pekan ke-11.

Tanpa Marchisio, Conte tampak kebingungan. Ia tak ingin poros serangan Juventus hanya bergantung pada Andrea Pirlo seorang. Arturo Vidal lebih bisa diandalkan sebagai perebut bola dan penyusup di kotak penalti lawan. Ia butuh pemain seperti Marchisio, yang bisa membagi bola layaknya Pirlo.

Eksperimen pun dilakukan oleh Conte. Untuk menghadapi Napoli yang memainkan formasi dasar 3-4-3, Conte memainkan formasi dasar 3-5-2. Barzagli, Bonucci, dan Chiellini di lini pertahanan. Ketiga bek ini diturunkan bersamaan agar Juve bisa meredam trio lini serang Napoli, yakni Goran Pandev, Ezequiel Lavezzi dan Marek Hamsik.

Pertandingan pun kemudian berjalan seru. Juve dua kali tertinggal, namun pada akhirnya bisa memaksakan hasil imbang 3-3. Juventus pun masih dalam tren tak terkalahkan saat itu, bahkan hingga akhir musim tanpa tersentuh kekalahan. Conte pun mulai terbiasa menggunakan skema 3-5-2 karena trio BBC semakin baik di lini pertahanan.

Peran Bonucci dalam skema tiga bek ini pun cukup sentral. Ia menjadi pemain yang ditempatkan di tengah. Namun Bonucci mendapatkan tugas lebih dari Conte. Ia diwajibkan bisa bermain laiknya seorang regista atau deep-lying playmaker. Ini untuk mengantisipasi Pirlo yang mulai sering dikawal lawan.

Dan ternyata Bonucci memainkan perannya dengan baik. Bahkan dari tahun ke tahun, ia seolah menjadi bek yang merangkap sebagai gelandang pengatur serangan. Ketika Pirlo hengkang pun kebutuhan akan pengatur serangan dari belakang dapat diisi dengan baik oleh Bonucci.

Hal ini terlihat dari rataan operan Bonucci yang terus meningkat sejak era Conte. Saat ditukangi Delneri, ia hanya melakukan 36 operan per pertandingan. Sementara di awal musim era Conte, Bonucci tercatat melakukan 52 operan per pertandingan. Kemudian saat ini, setelah Pirlo hengkang, Bonucci sudah menjadi pemain dengan rataan operan terbanyak Juventus, 63 operan per pertandingan.

Pep Guardiola kemudian melabeli Bonucci sebagai bek terbaik dunia. Pujian dari Pep, yang telah meraih sederet prestasi saat melatih Barcelona maupun Bayern Munich, tentu tidak bisa dianggap remeh. Apalagi Pep sempat berusaha memboyong Bonucci ke Manchester City.

Peran Bonucci sebagai Ball-Playing Defender membuat Pep, yang memiliki ideologi permainan pada orientasi penguasaan bola, terkesima. Terbilang jarang memang ada pemain bertahan yang memiliki kemampuan mengumpan, khususnya bola-bola panjang yang cukup akurat layaknya Bonucci. Atribut ini dibutuhkan agar sebuah tim bisa keluar dari tekanan lawan tanpa harus kehilangan penguasaan bola.

Pep sendiri bahkan harus mengubah pemain gelandang untuk menjadi pemain bertahan agar build-up serangan timnya bisa berjalan dengan baik. Di Barca, ia mengubah Javier Mascherano sebagai bek tengah. Di Bayern ia menjadikan Javi Martinez sebagai bek tengah. Tak banyak memang pemain bertahan dengan kemampuan seperti Bonucci.

Saat Conte digantikan Massimilliano Allegri, Bonucci memang semakin menunjukkan kualitasnya. Hal ini dikarenakan permainan Allegri lebih banyak menguasai bola ketimbang Conte. Apalagi pada awal kedatangannya Allegri menggunakan formasi dasar tanpa pemain sayap, yaitu 4-3-1-2. Namun perlahan-lahan, Allegri bisa memoles 3-5-2, bahkan 4-2-3-1, dengan Bonucci sebagai poros serangan utama.

 Kualitas, Mentalitas, dan Loyalitas Leonardo BonucciFoto: Marco Luzzani/Getty Images

Sumber Kehebatan Bonucci: Mentalitas Kuat

Meski bersinar di Juventus, Bonucci sebenarnya pernah berseragam rival bianconeri, Inter Milan, saat ia masih muda. Inter membeli Bonucci dari kesebelasan asal kampung halaman Bonucci yaitu Viterbese. Pada 2005, pada usia 18 tahun, ia pun didaftarkan sebagai pemain Inter Primavera.

Di Inter sebenarnya ia diproyeksikan untuk bermain bersama skuat utama. Hal ini terindikasikan dari Bonucci yang dibawa oleh pelatih Inter saat itu, Roberto Mancini, ke dalam latihan pramusim Inter. Namun karena posisi bek tengah Inter saat itu sudah sangat mewah, harus bersaing dengan nama-nama seperti Walter Samuel, Ivan Cordoba, Marco Materazzi, hingga Sinisa Mihajlovic, Bonucci pun lebih banyak bermain di tim primavera.

Tercatat Bonucci hanya satu kali membela tim senior Inter di Serie A. Musim berikutnya, Inter masih dilatih Mancini, Bonucci hanya diberikan tiga kali kesempatan bermain, itu pun di ajang Coppa Italia.

Setelah itu Bonucci dipinjamkan ke Treviso dan Pisa. Meski bermain cukup reguler, Inter merasa Bonucci tidak masuk dalam kriteria mereka, terlebih dengan persaingan yang ketat. Akhirnya, Inter menjadikan Bonucci (bersama tiga pemain lain plus 2,5 juta euro) sebagai alat tukar untuk mendapatkan Thiago Motta dan Diego Milito dari Genoa.

Namun alih-alih berseragam Genoa, Bonucci langsung dijual (setengah kepemilikannya) ke Bari. Di sinilah titik awal Bonucci mendapatkan karier yang menanjak.

Bonucci diboyong Bari atas rekomendasi pelatih Bari saat itu, Gian Piero Ventura. Ventura tahu betul kemampuan Bonucci karena sebelumnya ia pernah menukangi Bonucci di Pisa. Gaya permainan tim asuhan Ventura sendiri sangat direct, mengandalkan serangan balik cepat. Dan Ventura menyadari bahwa kelebihan Bonucci adalah kemampuannya dalam melepaskan umpan panjang, bukan kemampuannya dalam menghentikan serangan lawan.

Untuk memperkuat pertahanan, Ventura lebih mengandalkan Andrea Ranocchia, yang juga dipinjam dari Genoa. Begitu bergantungnya Ventura pada Bonucci terlihat dari Bonucci yang bermain di seluruh pertandingan Serie A yang dijalani Bari saat itu, 38 pertandingan, tanpa sekalipun digantikan.

 Kualitas, Mentalitas, dan Loyalitas Leonardo BonucciFoto: AFP/Damien Meyer

Kemampuan Bonucci dalam menjadi poros serangan lewat umpan-umpan panjang tak lepas dari pengalaman pemain kelahiran 1 Mei 1987 ini di akademinya. Sebelum menjadi bek, ia merupakan gelandang, bahkan pemain sayap. Ia juga terbiasa melewati pemain lawan saat menjadi pemain gelandang atau pemain sayap. Namun postur tubuhnya yang tinggilah yang membuat Bonucci disarankan bermain sebagai pemain bertahan.

“Sejak muda, saya sangat suka melakukan dribble dengan tipuan untuk melewati lawan,” ujar Bonucci pada LaStampa. “Hal tersebut semakin terasah saat saya dilatih Ventura. Ia tidak ingin para pemain membuang bola hanya karena tekanan lawan.”

Bonucci memang memiliki mental baja dan kepercayaan diri tinggi. Hal ini sebenarnya sudah terlihat dengan bagaimana ia mampu melewati masa sulitnya di awal kebersamaannya dengan Juventus. Bahkan untuk kepribadian Bonucci, Ventura sudah punya pandangannya sendiri sejak melatihnya di Bari.

“Di antara mereka berdua [Ranocchia dan Bonucci], secara kemampuan bertahan, Ranocchia lebih hebat,” ujar Ventura kepada Radio RAI. “Tapi Bonucci punya personalitas yang lebih baik, ia punya mental yang kuat dan kepercayaan diri tinggi.”

Bonucci memang sudah terbiasa menghadapi tekanan. Bahkan pada 2014 terungkap bahwa ketika di Treviso ia memiliki pelatih khusus untuk meningkatkan mentalnya. Hal ini terungkap lewat status Facebook pelatih mentalnya, Alberto Ferrarrini.

“Selama bertahun-tahun saya membawa Bonucci ke sebuah basement. Di ruangan paling bawah, yang sangat gelap,” tulis Ferrarrini, ditakik dari The Guardian. “Di sana, saya menghinanya. Saya mengumpatnya. Ia harus tahan itu. Jika ia tak tahan, biasanya ia mulai memandangi saya, maka saya langsung memukul perutnya. Tujuannya? Saya ingin ia menang menghadapi setiap kritikan. Ia harus fokus dan jangan menghiraukan segala hal buruk tentangnya. Itulah cara saya menjadikannya sebagai seorang prajurit.”

Pengalamannya itu sangat berguna saat Juventus dilatih Conte. Conte adalah pelatih yang selalu berapi-api, memarahi setiap pemainnya, bahkan saat timnya sudah unggul. Andrea Pirlo dalam bukunya I Think Therefore I Play, menceritakan bagaimana Conte sering membuat ruang ganti menjadi tegang.

“Jika saya bisa memutar waktu, saya hanya ingin mengubah satu hal; saya tak akan memilih duduk di samping Buffon di ruang ganti. Bahkan ketika menang, Conte akan datang dan memukul dinding, tentu saja itu sudut dinding saya. Apapun akan dipukulnya, terkadang juga botol-botol minum,” tulis Pirlo.

Akan tetapi Bonucci punya pandangan lain soal Conte. Menurutnya, Conte memang ingin menjadikan para pemainnya punya mental kuat seperti prajurit, atau di Juventus dikenal dengan sebutan grinta. Dan Bonucci tak masalah dengan cara Conte tersebut. “Kedatangan Conte adalah anugerah Tuhan. Di tangannya, para pemain menjadi prajurit yang sebenarnya.”

Kepribadian Bonucci ini pun banyak yang menyandingkannya dengan legenda Juventus sekaligus legenda timnas Italia, Gaetano Scirea. Scirea merupakan bek yang tenang di lini belakang, tapi juga bisa membangun serangan. Setidaknya hal ini diakui oleh mantan rekan setim Scirea, Giovanni Galli.

“Bonucci memiliki kepribadian dan ketenangan dalam menghadapi segala situasi. Ia juga bisa sangat berguna untuk serangan. Ia menguasai bola lebih banyak, dan bisa menggiring bola sendirian. Bagi saya, ia punya kualitas untuk menjadi Scirea baru.”

***

Tak perlu diragukan lagi, Bonucci kini menjadi salah satu bek terbaik dunia. Saat satu per satu pemain bintang pergi meninggalkan Si Nyonya Tua, akan tetapi Bonucci tetap menjadi palang pintu utama Juventus. Kepergian para pemain bintang seperti Vidal, Tevez, Pogba, hingga Pirlo pun tak membuat Juventus kehilangan tajinya di Eropa, karena Bonucci merupakan pemain yang sangat penting dalam sistem permainan Juventus, juga ia merupakan pemain yang paling tahu bagaimana seharusnya berseragam Bianconeri.

Saat pertama kali bergabung dengan Juventus, Bonucci sendiri merasakan bahwa masa depannya memang di Juventus. Hal itu pun kemudian ia buktikan dengan tetap bertahan di Juventus, bahkan menolak tawaran dari Manchester City yang kabarnya menawarkan gaji berlipat dari gajinya di Juventus.

“Juventus ada di darah, kulit dan daging saya. Setiap kali mengenakan jersey ini, saya mendapatkan energi yang luar biasa. Saya harap saya bisa menjadi bagian penting Juventus, seperti juga Juventus menganggap saya bagian penting,” ujar Bonucci pada football-italia saat membeberkan alasannya menolak tawaran City.

Dengan sederet prestasi yang telah ia raih bersama Juventus, ia tetap berseragam Bianconeri, padahal ia bisa pergi ke kesebelasan mana pun. Dari sekian banyak pemain yang datang dan pergi, pemain yang masih bertahan setidaknya dalam 10 tahan terakhir memang tinggal Buffon, Chiellini, Marchisio, dan tentu saja Bonucci. Itu adalah bukti loyalitas Bonucci terhadap Juventus.

====

*penulis adalah editor di situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @ardynshufi.

(mfi/nds)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *