Kualitas Penyelesaian Akhir Jadi Pembeda MU dan Soton

Posted on
Foto: Michael Steele/Getty Images Foto: Michael Steele/Getty Images

Jakarta – Manchester United berhasil keluar sebagai juara Piala Liga Inggris. Kualitas finishing para pemain jadi penentu kemenangan ‘Setan Merah itu.

Pada partai puncak yang dihelat Wembley, Minggu (26/2/2017) malam WIB, MU berhasil menaklukkan Southampton dengan skor tipis 3-2. Dua gol Zlatan Ibrahimovic serta gol Jesse Lingard hanya mampu dibalas dua gol Manolo Gabbiadini.

Pertandingan sendiri memang berjalan cukup sengit. Bahkan sebenarnya Southampton tampil lebih baik pada laga ini. Mereka nyaris unggul terlebih dahulu sebelum Ibrahimovic membuka kran gol pada laga ini. Hanya saja, gol yang dicetak Gabbiadini pada awal laga tersebut dianulir wasit meski sebenarnya penyerang asal Italia tersebut berada dalam posisi onside.

Keberhasilan MU memenangkan pertandingan ini tak lepas dari kualitas penyeselaian akhir mereka. Karena pada laga ini, jumlah tembakan mereka sebenarnya lebih sedikit ketimbang Southampton, 10 berbanding 12.

Kualitas Penyelesaian Akhir Jadi Pembeda MU dan SotonFoto: Pandit Football Indonesia

Southampton Mencecar United Lewat Umpan Silang

Marcos Rojo yang diturunkan sebagai bek kiri pada laga ini sebenarnya turut berkontribusi atas gol kedua MU yang dicetak Lingard. Akselerasinya di sepertiga akhir diakhiri dengan umpan terukur pada Lingard yang berdiri bebas di depan kotak penalti Southampton.

Meskipun begitu, kehadiran Rojo juga menjadi kekuatan sekaligus kelemahan MU. Hal ini terlihat bagaimana bek asal Argentina tersebut dengan mudahnya ditembus oleh lini serang Southampton, khususnya oleh Cedric Soares.

Southampton yang mengandalkan umpan-umpan silang pada laga ini, tercatat melakukan 29 umpan silang selama 90 menit pertandingan. Dari 29 upaya tersebut, mayoritas terjadi di sisi kiri pertahanan MU alias area bermain Rojo.

Kualitas Penyelesaian Akhir Jadi Pembeda MU dan SotonFoto: Pandit Football Indonesia

Grafis posisi umpan silang, Southampton (biru) lebih banyak melakukan di sisi kiri pertahanan Manchester United – Sumber: WhoScored

Gol Gabbiadini yang memperkecil ketertinggalan Southampton pada penghujung babak pertama tercipta melalui skema umpan silang di sisi kanan. Proses gol ini sama dengan ketika gol Gabbiadini dianulir wasit di awal pertandingan.

Lemahnya sisi kiri pertahanan MU sebenarnya tak semata-mata karena faktor lemahnya Rojo saja. Anthony Martial yang diplot sebagai winger kiri pun perlu disoroti karena tak begitu baik dalam membantu lini pertahanan. Sementara itu, sisi kanan Southampton begitu dinamis dan tajam lewat kombinasi Soares dan James Ward-Prowse.

Keduanya masing-masing mencetak empat umpan silang. Belum lagi Dusan Tadic yang sering bergerak ke sisi kanan, di mana total ia mencatatkan delapan umpan silang.

Martial tercatat hanya melakukan sekali upaya tekel pada laga ini. Pada gol kedua Gabbiadini, Martial-lah yang kalah duel udara melawan Oriol Romeu. Keberhasilan Romeu tersebut membuat bola mengarah ke kotak penalti dan langsung disambut Gabbiadini.

Meski Southampton menyerang lewat sayap, namun alur serangan Southampton seringkali memanfaatkan area depan kotak penalti MU yang kerap lowong. Hal ini dikarenakan Paul Pogba dan Juan Mata tak terlalu banyak melakukan aksi pertahanan. Hanya Ander Herrera yang paling sibuk membantu pertahanan United, di mana gelandang asal Spanyol ini mencatatkan 10 tekel dengan tujuh keberhasilan.

Pada gol Gabbiadini misalnya, gol ini berawal dari akselerasi Nathan Redmond, yang notabene winger kiri, cukup leluasa bergerak ke area depan kotak penalti sebelum akhirnya memberikan umpan pada Ward-Prowse di sisi kanan. Pergerakan Redmond inilah yang sempat membuat Rojo terpancing ke tengah dan menciptakan celah di sisi kiri.

Sebelum gol tersebut, area depan kotak penalti United cukup rentan dimanfaatkan Southampton. Dari 12 tembakan, enam tembakan dicetak dari luar kotak penalti. Redmond yang bermain sebagai inside forward pada laga ini mencatatkan empat tembakan yang kesemuanya dari luar kotak penalti.

Kualitas Penyelesaian Akhir Jadi Pembeda MU dan SotonFoto: Pandit Football Indonesia
Grafis tembakan Southampton (biru) yang banyak memanfaatkan celah di depan kotak penalti – Sumber: WhoScored

Celah di Depan Kotak Penalti Southampton

Apa yang menjadi masalah MU perihal lowongnya area depan kotak penalti sebenarnya menjadi masalah yang juga dihadapi Southampton. Jika melihat grafis di atas, MU cukup banyak melepaskan tembakan dari luar kotak penalti.

Gol tendangan bebas Ibrahimovic terjadi setelah pelanggaran dilakukan oleh pemain Southampton di depan kotak penalti. Sebelum itu, Pogba sempat mendapatkan peluang terbuka lewat tendangan jarak jauh dari luar kotak penalti. Gol Lingard dan gol kedua Ibrahimovic pun terjadi karena adanya kelengahan di area depan kotak penalti.

Kualitas Penyelesaian Akhir Jadi Pembeda MU dan SotonFoto: Pandit Football Indonesia
Situasi sebelum terjadinya gol Lingard

Gambar di atas menunjukkan bagaimana Lingard tak terkawal ketika Rojo melakukan penetrasi ke kotak penalti. Jack Stephens yang awalnya menjaga di dekat Lingard harus terpancing ke arah Rojo yang membawa bola. Jarak antara Romeu dan Lingard pun cukup jauh, sehingga Lingard cukup leluasa menempatkan bola ke pojok gawang Southampton.

Jika melihat proses gol ketiga ‘Setan Merah’ pun terlihat bagaimana area depan kotak Southampton cukup lengang. Ibrahimovic sempat menjadi pembagi bola di area tersebut sebelum akhirnya mengoper bola ke sayap kiri. Ketika lini pertahanan Southampton lengah, Ibrahimovic pun menyelinap dan mendapatkan ruang untuk menyambut umpan silang Herrera dengan bebas. Herrera juga mendapatkan bola dari umpan Pogba yang membelah area depan kotak penalti Southampton.

Romeu dan Steven Davis sebenarnya total mencatatkan 12 tekel, masing-masing enam tekel. Namun Romeu empat tekel berhasil, sementara Davis hanya sekali tekel yang berhasil. Ini yang sepertinya membuat Romeu terlalu bekerja keras hingga akhirnya sering lengah.

Kesimpulan

Pertandingan ini berjalan berimbang, bahkan Southampton yang melangkah ke babak final tanpa kebobolan tampil lebih baik dibanding MU. Terbukti Southampton lebih banyak melepaskan tembakan ketimbang MU

Kedua tim memiliki masalah di area depan kotak penalti ketika bertahan. Namun hanya United yang menganggap hal ini serius, di mana mereka menarik keluar Juan Mata untuk digantikan Michael Carrick menghadapi pemain bertipe menyerang; Sofiane Boufal, Shane Long, dan Jay Rodriguez.

Kualitas penyelasaian akhir pun menjadi pembeda pada laga ini. Dari 10 tembakan United, enam merupakan on target. Tiga gol yang bersarang ke gawang Southampton menjadi bukti. Karena Southampton memiliki banyak peluang pada laga ini; selain satu gol dianulir, sundulan Romeu pun membentur mistar gawang.

(mrp/mrp)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *