Marquee Player dan Ketidakadilan Sepakbola Indonesia

Posted on
Foto: ANTARA FOTO/Novrian Arbi Foto: ANTARA FOTO/Novrian Arbi

Jakarta – Persib Bandung membuat jagat sepakbola Indonesia berguncang. Menjelang Liga 1 dimulai, mereka berhasil mendatangkan pemain yang pernah menjuarai Liga Primer Inggris bersama Chelsea, Michael Essien. Sebagai pemain kelas dunia, meski usianya sudah mencapai 34 tahun, Essien masih lah menjadi daya tarik.

Tak lama berselang, Persib kembali mendapatkan pemain berstatus marquee player dalam diri Carlton Cole. Mantan penyerang timnas Inggris dan West Ham United ini melengkapi skuat Persib yang kini memiliki empat pemain asing.

Namun yang paling menarik, di saat Persib membuat sensasi dengan marquee player-nya, PT Liga Indonesia Baru (LIB) sedang sibuk-sibuknya membuat regulasi baru terkait penyelenggaran Liga 1. Padahal, Liga 1 rencananya akan digelar 15 April mendatang, itu pun jika tidak diundur kembali.

Soal marquee player memang menjadi bahasan serius dari PT LIB. Karena meski secara bisnis cukup menjanjikan, penerapan marquee player di Indonesia bisa memunculkan masalah tersendiri bagi kesebelasan-kesebelasan Indonesia, bak pisau bermata dua.

Tentang Marquee Player

Marquee player bukan hal baru di sepakbola. Major League Soccer atau kompetisi sepakbola Amerika Serikat, menerapkan ini pada 2007 lalu ketika LA Galaxy mendatangkan David Beckham yang kontraknya habis bersama Real Madrid. Di AS, marquee player sendiri dinamakan designated player.

Selain AS, marquee player juga terdapat di A-League (Australia), I-League (India), dan ISL (India Super League). Walaupun begitu, definisi dan aturan mengenai penggunaan marquee player berbeda-beda. Pemain yang dikategorikan sebagai marquee player sendiri biasanya berkaitan dengan salary cap atau batas maksimal total gaji pemain dalam sebuah kesebelasan.

Misalnya di AS, masing-masing kesebelasan dibatasi hanya boleh memiliki pengeluaran gaji sampai 3,845 dolar AS (Rp 51 miliar) dalam satu musim. Sementara untuk satu pemain adalah 480.625 dolar AS (6,4 miliar rupiah). Maka pemain marquee adalah pemain yang gajinya di atas 480.625 dolar AS dan gajinya tersebut tak termasuk ke dalam total anggaran gaji kesebelasan tersebut dalam satu musim. Untuk menjaga kesenjangan, masing-masing kesebelasan MLS hanya boleh memiliki dua marquee player saja.

Di Liga 1 sendiri, menurut regulasi baru yang ditetapkan per 28 Maret 2017, batas maksimal pengeluar kesebelasan untuk gaji adalah 15 miliar rupiah. Maka misalnya Essien dibayar Persib sebesar 8 miliar, pembayaran Essien tersebut tidak termasuk ke dalam batas 15 miliar masing-masing kesebelasan dalam satu musim.

Menurut draf regulasi Liga 1, marquee player adalah pemain asing dengan persyaratan (sesuai yang tertulis):
a. Termasuk dalam skuad tim nasional di 3 putaran final FIFA World Cup terakhir (FIFA World Cup 2006 Germany, FIFA World Cup 2010 South Africa dan FIFA World Cup 2014 Brazil) atau;

b. bermain di liga Eropa dalam kurun waktu 8 tahun terakhir (2009-2017) sebagai berikut: Premier League – Inggris, La Liga – Spanyol, Bundesliga – Jerman, Serie A – Italia, Eredivisie – Belanda, Ligue 1 – Prancis, Süper Lig – Turki, Primeira Liga – Portugal.

Mengacu pada draf regulasi di atas, Essien yang pernah bermain di Piala Dunia 2006 dan 2014, serta di Liga Primer (2005-2014), La Liga (2012-2013), dan Serie A (2014-2015), jelas termasuk marquee player. Sementara Cole juga disebut marquee player karena pernah bermain di Liga Primer (sepanjang 2001-2015, kecuali 2002-2003 dan 2011-2012).

Marquee Player dan Ketidakadilan Sepakbola Indonesia Foto: Shaun Botterill/Getty Images

Selain keduanya, ada tiga pemain lagi yang sudah berstatus marquee; Wiljan Pluim (PSM Makassar), Steven Paulle (PSM Makassar), dan Sylvano Comvalius (Bali United).

Pluim pernah bermain di Eredivisie pada 2008 hingga 2015, Paulle bermain di Ligue 1 pada 2010-2011, sementara Comvalius pernah bermain di Bundesliga pada 2013/2014. Oleh karena itu, Pluim, Paulle, dan Comvalius, jika mengacu pada draf regulasi di atas, berstatus marquee player meski gajinya tidak se-wah Essien dan Cole.

Sepakbola Sudah Populer di Indonesia

Jika melihat tiga negara yang sudah menggunakan aturan marquee (AS, Australia dan India), ada kesamaan dari ketiganya, yaitu ketiga negara kurang populer dengan sepakbola. Di AS, sepakbola masih kalah dari basket lewat NBA-nya, serta masih kalah juga dari American football, bisbol, dan hoki. Di Australia, football dan rugbi mengungguli sepakbola. Sementara di India sepakbola tidak sepopuler kriket.

Penggunaan marquee player pun dilakukan sebagai upaya masing-masing negara di atas untuk meningkatkan popularitas sepakbola. Meski dengan perbadaan definisi dan syarat, marquee player memiliki tujuan yang sama, yakni untuk meningkatkan promosi dan kualitas sepakbola di negara tersebut.

Dengan mendatangkan pemain kelas dunia, seperti Beckham di MLS, Alessandro Del Piero di Australia, hingga Robert Pires di India Super League, federasi negara tersebut berharap masyarakat bisa lebih tertarik pada sepakbola, khususnya untuk datang langsung ke stadion. Bahkan India Super League sempat memurahkan (sebagian gratis) harga tiket pertandingan agar masyarakat India lebih tertarik pada sepakbola.

Marquee Player dan Ketidakadilan Sepakbola Indonesia Foto: Joosep Martinson/Getty Images

Selain itu, marquee player juga diharapkan bisa meningkatkan kualitas liga. Dengan adanya pemain kelas dunia, diharapkan tingkat kompetisi liga di masing-masing negara tersebut bisa terangkat. Muaranya adalah agar kualitas pemain lokal bisa terangkat, ini terkait ketiga negara yang ingin tim nasional sepakbolanya lebih berprestasi.

Dari dua hal di atas, penerapan marquee player sendiri cenderung lebih mengedepankan pada tujuan pertama, yakni promosi sepakbola di sebuah negara. Apalagi MLS dan ISL, keduanya dikenal sebagai liga yang berusaha berkembang lewat aspek bisnis. Sementara agar kualitas mereka terjaga, khususnya dari segi bisnis (terkait salary cap), MLS, A-League dan ISL tidak menerapkan sistem degradasi. Maka hanya kesebelasan yang benar-benar mampu “bersaing” (secara bisnis)-lah yang bisa berlaga di ketiga liga tersebut.

Kesebelasan-kesebelasan Indonesia sendiri mengatakan jika marquee player memang sangat positif perihal peningkatan atmosfer penonton. Dari beberapa pihak kesebelasan yang kami tanyakan pun mereka satu suara bahwa adanya marquee player bisa meningkatkan animo penonton ke stadion.

“Keputusan manajemen [Semen Padang] tidak pakai marquee player. Alasannya manajemen yang tahu,” kata pelatih Semen Padang, Nil Maizar, ketika kami hubungi. “Kalau pemain top (marquee player) ada di Indonesia, akan mengangkat harkat dan martabat sebuah kesebelasan. Secara atmosfer akan meningkat, animo masyarakat ke stadion akan meningkat karena penasaran dengan kemampuan pemain top tersebut.”

“Secara bisnis kedatangan marquee player ini sebenarnya memberikan dampak yang cukup besar,” ujar Rudi Widodo, manajer Arema FC. “Misalkan Arema gak ada marquee player, tapi Persib ada. Stadion bakal tetap penuh karena suporter kami juga pasti bakal lihat tim lawan yang ada marquee player-nya juga.”

Apa yang dikatakan oleh kedua pelaku sepakbola di atas tidaklah keliru, namun jika meninjau lebih jauh, Liga Indonesia sendiri tampaknya tidak seperti MLS, A-League, atau ISL. Di Indonesia, sepakbola menjadi olahraga favorit nomor satu. Untuk kesebelasan seperti Arema FC, Persib Bandung, Persija Jakarta, hingga Sriwijaya, tidak hanya sekali dua kali saja stadion penuh sesak, apalagi jika partai big match.

Marquee player, untuk meningkatkan animo masyarakat, justru lebih dibutuhkan kesebelasan-kesebelasan Indonesia yang sepi penonton. Persib tidak perlu marquee player karena antusiasme bobotoh terhadap Persib sangatlah tinggi di setiap pertandingan karena Persib merepresentasikan Jawa Barat. Terbilang aneh juga jika kesebelasan lain hanya berharap stadion penuh saat melawan Persib saja karena adanya marquee player di skuat Persib.

Liga Indonesia Belum/Tidak Siap Berlakukan Marquee Player Tujuan dari kedatangan marquee player tidak bisa hanya dilihat dari animo suporter semata. Seperti yang sudah disebutkan di atas, peningkatan kualitas liga juga diharapkan bisa terealisasi dengan adanya pemain kelas dunia.

Tingkat kompetisi liga memang bisa meningkat jika adanya marquee player. Dan sekarang di Indonesia, tanda-tanda ini sudah terlihat. Ketika Persib mendatangkan Essien, kesebelasan lain pun tak mau kalah untuk mendatangkan marquee player, salah satunya Madura United yang sempat dikaitkan dengan Peter Odemwingie. Tujuannya tentu agar tidak hanya Persib seorang yang punya pemain kelas dunia.

Tidak sedikit memang kesebelasan yang mulai iri pada Persib karena memiliki Essien. Apalagi beberapa regulasi baru diputuskan, bahkan masih direvisi hingga saat ini, setelah Persib mendatangkan Essien. Dan ini menunjukkan bahwa sebenarnya Liga 1 belum/tidak siap menyambut marquee player.

Awalnya, Liga 1 memiliki aturan 3+1 untuk pemain asing, yakni tiga pemain non-Asia plus satu pemain Asia. Essien diperkenalkan pada Selasa (14/03), tapi dua hari setelah Essien disahkan menjadi pemain Persib (16/03), aturan pemain asing berubah menjadi 2+1+1 (dua pemain asing non-Asia, satu pemain asing Asia, dan satu marquee player).

Kemudian setelah ada kabar Persib akan mendatangkan Cole, setiap kesebelasan malah diperbolehkan memiliki lebih dari satu pemain marquee, bahkan Ketua PSSI, Edy Rahmayadi, memperbolehkan adanya lima marquee player dalam satu kesebelasan (29/03). Pada saat Cole sudah resmi menjadi pemain Persib (30/03), hal ini pun menjadi tidak bermalah lagi.

Marquee Player dan Ketidakadilan Sepakbola Indonesia Foto: Hasan Al Habshy

PSSI kemudian baru menentukan salary cap 15 miliar rupiah dalam satu musim untuk setiap kesebelasannya setelah adanya gembar-gembor marquee player. Belum lagi ada aturan-aturan aneh lainnya seperti diperbolehkannya mengganti sampai lima pemain, tiga pemain U-23 wajib starter, dan pemain di atas usia 35 tahun dibatasi hanya dua saja.

Yang perlu menjadi catatan, Liga 1 akan dimulai sekitar dua pekan lagi. Sementara aturan-aturan ini masih dibahas oleh PT LIB dengan kesebelasan-kesebelasan Liga 1. Hal ini tentunya mengganggu terhadap persiapan tim dalam menghadapi Liga 1.

Idealnya, aturan baru diputuskan jauh-jauh hari, bukan serba mendadak seperti yang akan terjadi di Liga 1. MLS misalnya, marquee player ada sejak pertengahan tahun 2007, sementara aturan penggunaan pemain marquee-nya sudah disahkan sejak 11 November 2006. Aturan ini pun kembali dievaluasi pada 2009 untuk diputuskan tetap ada atau tidak, hingga akhirnya menjadi satu aturan baku untuk liga.

Penerapan marquee player memang bukan perkara kecil, apalagi untuk kesebelasan Indonesa. Marquee player ini berkaitan dengan finansial kesebelasan, berbicara tentang keuangan kesebelasan. Sementara masalah keuangan menjadi salah satu masalah yang masih ada di Indonesia hingga saat ini.

Marquee player akan menimbulkan kesenjangan antara kesebelasan-kesebelasan Indonesia. Kesebelasan kaya, yang bisa mendapatkan banyak sponsor seperti Persib, bisa dengan mudah mendatangkan pemain kelas dunia. Tapi bagaimana dengan kesebelasan lain seperti Persela Lamongan, Persegres, Persiba Balikpapan, dan lain-lain?

Setiap kesebelasan Liga 1 saat ini memang mendapatkan subsidi sebesar 7,5 miliar rupiah dari PT LIB, lebih besar dari ISC 2016 yang hanya 5 miliar rupiah. Namun jumlah tersebut masih belum cukup untuk membangun skuat yang kuat. Malahan banyak kesebelasan yang benar-benar mengandalkan subsidi PT LIB untuk menjalani musim kompetisi.

“Persegres akan ambil 30 pemain,” ujar Bagas Citra, Manajer Persegres, pada kami. “Untuk gaji, total anggaran antara 9,5 miliar sampai 10 miliar. Sekarang untuk gaji pemain saja masih kurang dan harus cari sponsor baru, apalagi buat marquee player?”

“Sebenarnya uang subsidi ini masih kurang,” kata Rudi Widodo, manajer Arema FC. “Rata-rata gaji pemain Arema dalam satu musim saja 12,5 miliar sampai 15 miliar. Belum lagi ditambah biaya away dan lain-lain. Intinya Arema mencermati soal marquee player ini. Kami gak terlalu grasak-grusuk lah soal marquee player ini.”

“Alangkah baiknya kalau ada pembagian subsidi [khusus untuk marquee player] dari sebuah konsorsium atau operator liga buat kesebelasan-kesebelasan peserta nanti. Seperti yang terjadi di Liga Dunhill dulu,” tutur pelatih Barito Putera, Jacksen F. Thiago. “Yang mengontrak kami (Jacksen merupakan pemain marquee di Liga Dunhill) bukan kesebelasan secara langsung, tetapi operator liga dan selanjutnya kami dibagikan ke klub.”

Dari tiga pernyataan di atas, ketiganya satu suara jika tidak hanya satu-dua kesebelasan saja yang keuangannya saat ini belum aman untuk menjalani kompetisi. Bahkan mereka cenderung mengharapkan subsidi dari PT LIB. Bahkan tak sedikit yang tak terpikirkan pemain marquee karena keraguan mereka mendapatkan sponsor yang mau membayar marquee player.

Soal kesebelasan yang mengandalkan subsidi dari operator liga, ini bukan cerita baru. Bahkan tak sedikit catatan hitam mengenai pembagian subsidi ini. Anda bisa dengan mudah mencari pemberitaan kesebelasan yang menagih-nagih pada operator liga untuk pembayaran subsidi. Inilah yang menjadi sumber tertunggaknya gaji pemain di Indonesia. Dan perlu diketahui, masalah penunggakan gaji ini masih terjadi pada awal 2017 lalu.

***

Tak hanya dari sisi positif,marqueeplayer perlu dilihat dari sisi negatifnya. Kita perlu mengetahui seberapa perlu kesebelasan Indonesia membuang-buang banyak uang untukpemainberkontrak mahal.Marqueeplayer berbicara tentang finansial kesebelasan, sementara transparansi keuangan kesebelasan saja kita masih sulit mendapatkannya. Persoalan uang juga kerap melingkupi sepakbola Indonesiasepertipenunggakan gaji pemain dan pelatih seperti yang sudah terjadi selama ini.

Secara bisnis, marquee player memang bisa meningkatkan popularitas sepakbola Indonesia di mata dunia, seperti ketika Persib ramai diperbincangkan media luar negeri kala merekrut Essien. Namun tidak semua kesebelasan setajir Persib yang sanggup untuk mendatangkan pemain bernama besar.

Bahkan sebenarnya Persib sendiri terlalu takabur dengan mengontrak Essien dan Cole. Jika kita lihat secara seksama, Persib justru masih memiliki fasilitas dan infrastruktur yang minim. Mereka hampir tidak memiliki aset fisik sama sekali. Misalnya, mess masih memakai punya Pemda, tempat latihan di Sidolig maupun Lodaya juga punya Pemda, mereka juga sempat numpang latihan di beberapa lapangan milik swasta dan TNI (tapi TNI itu yang “punya” PSSI sekarang, ya?).

Marquee Player dan Ketidakadilan Sepakbola Indonesia Foto: ANTARA FOTO/Agus Bebeng

Kembali ke PT LIB, mereka terlihat terburu-buru dalam menyikapi kedatangan Essien. PT LIB tidak bisa sembarangan dalam menentukan salary cap. PT LIB tidak bisa menentukan aturan yang berseberangan dengan aturan FIFA dan AFC (terutama soal lima pergantian pemain). Apakah PT LIB memikirkan bagaimana kesebelasan yang promosi ke Liga 1 musim depan yang disubsidi 500 juta rupiah (dengan skuat tanpa pemain asing dan batas pemain di atas 25 tahun) ketika harus menghadapi kesebelasan Liga 1 yang disubsidi 7,5 miliar plus marquee player-nya? Apakah para pemain kelas dunia itu bisa bermain dan berlatih dengan baik di lapangan-lapangan Indonesia yang tidak rata?

MLS saja butuh hampir setengah tahun untuk benar-benar menerapkan peraturan marquee player (designated player rule). FIFA juga butuh kajian dan uji coba selama lebih dari lima tahun untuk mempraktikkan goal-line technology (yang sekarang masih diperdebatkan juga).

Kita bisa belajar jika semuanya butuh proses, tidak bisa instan. Melihat aturan marquee player yang berubah-ubah ditambah baru ditetapkan tidak sampai satu bulan dari dimulainya Liga 1, ini malah menunjukkan “mental instan” Indonesia dalam tubuh PSSI dan PT LIB.

Sebagai penutup, untuk menjadi renungan kita semua, saya mengutip apa yang dikatakan oleh pelatih PSM Makassar, Robert Rene Alberts, ketika kami tanyai pendapatnya mengenai soal marquee player ini. Menurut pelatih asal Belanda ini, ketimbang marquee player, harus Indonesia lebih banyak berinvestasi pada pemain muda dan infrastruktur.

“Ini adalah saat di mana Indonesia beranjak dewasa dalam hal sepakbola profesional. Mereka (PSSI) butuh orang-orang yang menjalankan sepakbola yang mengerti apa tuntutan sepakbola profesional di era modern dan dunia sepakbola modern. Sayangnya, jika kita selalu melakukan hal yang sama, dan kita menginvestasikan uang kita kepada pemain-pemain yang datang ke sini hanya karena uang, tentu saja kita harus bertanya kepada kita sendiri: ‘Mana yang lebih penting, menaruh uang pada pemain-pemain yang hanya beberapa kesebelasan saja yang mampu mengontraknya atau pengembangan pemain muda? Juga, permukaan lapangan masih tidak rata, ini tidak adil.”

Jika diterapkan sekarang, marquee player memang hanya akan memperlihatkan ketidakadilannya. memang hanya akan memperlihatkan ketidakadilannya.

====

*penulis adalah editor situs @panditfootball, beredar di dunia maya dengan akun @ardynshufi.

(din/din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *