Pirlo dan Xavi, duo gelandang tengah terhebat yang akan kembali berduel.

Posted on

bigtvsport.com – Dua gelandang tengah terhebat generasi ini akan bertemu untuk kali terakhir di laga level tertinggi, siapakah pemenangnya? Andrea Pirlo dan Xavi Hernandez mungkin bisa disebut sebagai gelandang yang sudah ketinggalan zaman. Di tengah pusaran sepakbola moderen yang lebih mengedepankan kekuatan fisik, keduanya hadir sebagai pemain yang lebih mengandalkan teknik. Tapi ajaibnya, mereka awet bercokol di puncak permainan lewat gaya tersebut.

Sayang, kedua pesepakbola antitesis tersebut segera pergi meninggalkan panggung sepakbola level tertinggi. Xavi sudah memastikan kepergiannya ke Qatar, selepas musim ini berakhir. Sementara Pirlo mengisyaratkan jika Juventus sukses juara Liga Champions musim ini, maka torehan itu akan jadi perpisahan yang indah baginya.

Xavi sekarang 35 tahun, sementara Pirlo setahun lebih tua. Keduanya mungkin sudah sedikit melewati masa keemasannya, tapi peran mereka masih krusial di klub dan timnas. Xavi sukses mengantarkan Spanyol jadi juara Piala Dunia 2010 dan back-to-back di Euro 2008 dan 2012. Pirlo sendiri sudah pernah memenangi Piala Dunia pada edisi 2006 dan mengantarkan Italia ke final Euro 2012, namun kalah oleh Xavi dan La Furia Roja.

Xavi memang sudah pasti meninggalkan Barcelona, tapi ia pergi dengan label sebagai legenda dan pemain terbaik sepanjang masa. Apa yang sudah ia berikan pada klub tak bisa dibantah, ia juga sanggup memberikan dampak yang besar bagi periode internasional tersukses bersama timnas Spanyol. Namun di akhir pekan ini, salah satu lulusan terbaik La Masia itu bakal bertemu dengan pemain yang mungkin sedikit lebih unggul darinya.

Andrea Pirlo berkarier di leboh banyak klub ketimbang Xavi, yang hanya pernah membela Barca. Layaknya sang rival, Il Maestro juga sanggup membuktikan dampak magisnya di timnas, dengan memainkan peran kunci keberhasilan Italia merengkuh Piala Dunia 2006. Ia bahkan masih jadi jantung Gli Azzurri hingga kini. Tak seperti perbandingan lainnya, pemain satu ini tak dapat diukur dengan hanya menghitung jumlah gelar juaranya.

Ketika Pirlo bekerja keras untuk bisa mapan ketika berlaga dengan beragam pemain bintang lainnya, ia tak mendapat keistimewaan stabilitas layaknya Xavi di Barca. Gagal menembus tim utama di FC Internazionale di awal kariernya, Pirlo terlahir kembali di AC Milan lewat posisi terkenal, deep-lying playmaker. Bertemu Massimiliano Allegri yang merupakan musuhnya, ia sukses berjuang nyaris seorang diri untuk memperbaiki hubungan dan meraih kembali kepercayaan. Dirinya pun terus jadi pilar krusial Juve.

Pirilinho telah jadi inspirasi sepakbola dalam beberapa tahun terakhir. Ketika permainan membutuhkan seseorang yang berani mengambil tanggung jawab besar terhadap hasil akhir, Pirlo tampil di situ. Ia adalah sosok yang amat dominan di atas lapangan, meluncur angun di seluruh bagian lapangan, memberikan proyeksi pada mobilitas bola, dan selalu mampu memaksimalkan celah kecil yang diciptakan lawan.

Pirlo dan Xavi, duo gelandang tengah terhebat yang akan kembali berduel.
Pirlo dan Xavi, duo gelandang tengah terhebat yang akan kembali berduel.

Kemampuannya dalam mengeksekusi bola mati adalah sesuatu yang haram Anda lewatkan. Jika Anda duduk di bagian belakang saat Pirlo akan mengamil eksekusi dan melakukannya, maka Anda akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa! Xavi mungkin telah melakukan banyak sesuatu yang spesial untuk meraih kemenangan, tapi Pirlo masih jadi pemenang sejati. Ia menang dalam keseluruhan pertandingan. Dirinya sangat berpengaruh pada jalannya permainan, begitu dominan, dan jadi bintang di saat genting.

Jauh sebelum munculnya Neymar dan Luis Suarez, bersama Lionel Messi yang membentuk lini depan mengerikan, Barcelona sudah sukses membangun lini tengah terbaik yang pernah ada. Dan sektor itu dipimpin oleh sosok yang mengagumkan bernama Xavi Hernandez.

Ketika Xavi melakoni debutnya di klub asal Catalunya pada 1998, dirinya berada di bawah tekanan luar biasa karena dicap sebagai penerus sosok Pep Guardiola. Hal itu bahkan membuat Xavi muda nyaris meninggalkan Camp Nou. Untungnya ia memutuskan bertahan, dan seiring berjalannya proses, pria berwajah kalem ini akirnya membuat sejarah bersama sang senior dalam peran berbeda.

Xavi bahkan jadi titik tumpu kesuksesan terbesar sepanjang sejarah Barca dan timnas Spanyol. Jika ada seseorang yang melambangkan filosofi sepakbola termasyhur Tiki-Taka, yang mengantarkan Blaugrana dan La Furia Roja sukses dari 2008 hingga 2014, maka sosok itu adalah Xavi.

Tak ada pemain yang bisa memberi kedalaman permainan di sektor gelandang, layaknya Xavi. Jika dampak yang diberikan Andrea Pirlo memiliki jeda waktu, maka Xavi jauh lebih konstan. Ia ada di semua sisi lapangan, melakukan beberapa pergerakan menonjol, mengoper, menekan, dan mengontrol penguasaan bola timnya, sebagai filosofi. Xavi jadi yang terbaik dalam peran tersebut selama bermusim-musim.

Pirlo dan Xavi, duo gelandang tengah terhebat yang akan kembali berduel.
Pirlo dan Xavi, duo gelandang tengah terhebat yang akan kembali berduel.

Keunggulannya tidak dapat diukur berdasar gol maupun assist. Xavi hampir selalu memegang bola, dengan memberikan kesempatan yang lebih baik bagi rekannya untuk menciptakan peluang. Dia membuat segala yang tampak rumit, jadi terlihat mudah bahkan ketika Barca mengubah gaya bermainnya di musim 2014/15, yang juga jadi senja dalam kariernya.

Tapi sosoknya tetap penting pada musim pamungkasnya di Camp Nou, dengan mempersembahkan trofi ke-24 dalam kariernya bersama Los Cules. Tak pemain Spanyol manapun yang bisa menyamai torehan tersebut. Meski Messi tampak lebih luar biasa dalam era kejayaan Barca dalam beberapa musim terakhir, Xavi tetap memiliki arti krusial yang sama dengan Messiah.

Tidak banyak pemain yang bisa mengatakn bahwa mereka bisa mengubah nasib klub dan timnas negaranya. Tapi Xavi secara luar biasa mampu melakukan hal itu, dan mungkin dirinya adalah gelandang terbaik yang pernah ada dalam sejarah sepakbola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *