Tekanan Blok Tinggi dan Tidak Rapihnya Lini Tengah Arsenal dan Man City

Posted on
Foto: Reuters / John Sibley Foto: Reuters / John Sibley

Jakarta – Hasil imbang 2-2 yang mewarnai pertandingan antara tuan rumah Arsenal dan Manchester City menunjukkan kepada kita keseruan melalui “jual-beli serangan” di antara keduanya. Sebanyak delapan tembakan dari Arsenal (tiga on target) dan 14 dari City (lima on target) ditambah angka dribel Arsenal yang mencapai 15 berbanding 14 untuk City, membuat kita terhibur.

Arsenal harus tertinggal dua kali, tetapi dua kali juga mereka mampu menyamakan kedudukan. Sekilas, pertandigan ini seperti menunjukkan kualitas yang tinggi dari kedua kesebelasan yang juga merupakan dua kesebelasan papan atas di Liga Primer Inggris.

Akan tetapi, jika kita lebih seksama, “jual-beli serangan” tersebut bisa terjadi karena buruknya koordinasi pertahanan kedua kesebelasan. Angka-angka yang disebutkan di awal tulisan ini lebih menunjukkan jika Arsenal dan Man City sama-sama mengejar bola dan naik-turun secara sporadis dengan kecepatan penuh.

Hal ini tentunya menghibur bagi penonton, tapi tidak bagi kedua manajer. “Kami terlihat grogi dan terkejut dengan cara mereka (Manchester City) memulai pertandingan. Aku takut jika kami memulai pertandingan dengan lambat karena kami ditekan,” kata Arsene Wenger, dikutip dari BBC Sport. “Secara psikologis, penting untuk tidak kalah.”

Josep Guardiola, manajer Man City juga merasa tidak puas. “Itu sulit, kami bermain lebih baik di babak kedua, setelah kami mencetak gol di menit-menit awal, kami terlihat sedikit lupa untuk bermain. Kami harus memperbaiki diri,” kata Guardiola, juga dikutip dari BBC Sport.

Arsenal coba mengeksploitasi Navas sebagai full-back kanan Man City Mengawali pertandingan dengan cepat, kita sebenarnya diberi contekan kelemahan pertahanan Manchester City dari susunan pemain mereka. Salah satu hal yang tersoroti di awal adalah sisi kanan pertahanan Manchester City.

Guardiola memainkan formasi 4-3-3 degan Jesus Navas sebagai full-back kanan, padahal posisi alami pemain asal Spanyol ini adalah winger kanan. Menilik kebiasaan Guardiola dengan para full-back, kita mungkin akan memaklumi ini. Misalnya saja saat di Bayern Munich, jika ia melihat full-back-nya bisa bermain baik, seperti David Alaba dan Philipp Lahm, ia akan memindahkan posisi bermain mereka menjadi seorang gelandang.

Jika ia melakukannya, siapa yang kemudian akan bermain pada posisi full-back? Ya, siapa saja. Pada pertandingan semalam, Navas adalah “korban” terbaru Guardiola.

Dipilihnya Navas menjadi full-back ini bukannya tanpa alasan. Guardiola menginginkan agar pertahanannya tidak kelabakan menghadapi kecepatan para pemain Arsenal. Namun, awalnya Navas diperkirakan akan kerepotan ketika menghadapi umpan silang, bola-bola panjang, maupun umpan terobosan. Arsenal pun mencoba memanfaatkan hal ini dengan mengeksploitasi Navas.

Tekanan Blok Tinggi dan Tidak Rapihnya Lini Tengah Kedua KesebelasanFoto: Pandit Football Indonesia

Gambar 1 – Grafis operan panjang dan operan terobosan Arsenal – Sumber: Squawka

Navas sendiri sempat grogi di awal pertandingan, melakukan pelanggaran dan bahkan mendapatkan kartu kuning. Tapi setelah itu, ia bisa memerankan posisi tersebut dengan sangat baik.

Pada akhirnya, ia mampu mencatatkan delapan tekel sukses dari 11 percobaan tekelnya (dua menghasilkan pelanggaran), yang merupakan angka tekel sukses terbanyak di antara seluruh pemain City dan Arsenal semalam. Ia juga mencatatkan empat intersep, dua sapuan, satu blok, dan tiga operan kunci.

[Selengkapnya: Arsenal Gagal Mengeksploitasi Separuh Navas Manchester City]

Kedua kesebelasan saling menekan dengan tinggi Pressing blok tinggi juga sangat terlihat pada pertandingan semalam. Dari kubu Man City, melalui salah satu dari David Silva, Sergio Aguero, Leroy Sane, dan Raheem Sterling (di babak pertama), tekanan tinggi ini ditujukan untuk menjaga bola agar terus berada di sepertiga wilayah pertahanan Arsenal.

The Citizens mencoba merebut bola melalui situasi seperti ini, dan mereka berhasil melakukannya terutama kejadian pada gol kedua yang dicetak oleh Aguero.

Tekanan Blok Tinggi dan Tidak Rapihnya Lini Tengah Kedua KesebelasanFoto: Pandit Football Indonesia

Gambar 2 – Grafis pemulihan bola Arsenal (kiri) dan Manchester City (kanan) – Sumber: FourFourTwo Stats Zone

Arsenal juga tidak tinggal diam dengan menekan City dari pertahanan mereka, meskipun tidak segencar yang City lakukan. Akan tetapi, tekanan tinggi ini tidak dibarengi dengan tekanan serupa ketika lawan sudah memasuki setengah lapangan.

Alexis Sanchez misalnya, ia terlihat jarang atau bahkan hampir tidak pernah melakukan track-back. Apalagi kinerja yang ditunjukkan oleh double pivot Arsenal, Granit Xhaka dan Francis Coquelin, tidak memuaskan sehingga Man City berhasil beberapa kali memanfaatkan area tengah ini.

Berseberangan dengan itu, ketika City menyerang, beberapa pemain mereka juga terlihat terlalu asyik. Hanya Fernandinho dan Silva yang melakukan cover saat full-back naik. Dengan begitu, Arsenal sebenarnya bisa memanfaatkan area tengah City yang ditinggalkan oleh Fernandinho dan Silva ini.

Akan tetapi, alih-alih memanfaatkannya lewat duel, Arsenal justru lebih banyak melakukan operan. Hal ini terjadi karena Mesut Ozil bermain pada posisi “lubang” ini. Ozil sendiri tidak mampu berbuat banyak meskipun pada gol Shkodran Mustafi, ia lah yang memberikan asis melalui sepak pojok.

Kendur-kencang dengan Bergantian

Salah satu hal menarik dari pertandingan semalam adalah bagaimana Arsenal dan City mampu mengendurkan dan mengencangkan permainan dengan bergantian.

Tercatat, Arsenal kehilangan bola sampai 16 kali, sementara City 15 kali. Salah satu hal yang terlihat adalah dari kutipan Wenger, yaitu Arsenal terlalu lambat di awal laga. Mereka kebobolan justru melalui skema bola panjang, dan bola panjang itu mengarah kepada Hector Bellerin yang sebenarnya bertipikal cepat. Namun, Bellerin kalah berduel dengan Sane sehingga pemain asal Jerman tersebut berhasil mencetak gol pembuka saat pertandingan belum sampai lima menit.

Tekanan Blok Tinggi dan Tidak Rapihnya Lini Tengah Kedua KesebelasanFoto: Pandit Football Indonesia

Gambar 3 – Perbandingan operan Arsenal (kiri) dan Manchester City (kanan) pada babak pertama – Sumber: Squawka

Arsenal mendapatkan gol balasan setelah sapuan City disikapi terlalu terburu-buru oleh para pemain City. Mereka langsung siap naik dengan cepat, padahal bola sapuan tersebut berhasil direbut kembali oleh Arsenal. Hasilnya, Theodore Walcott pun mampu mencetak gol dengan berhadapan satu lawan satu dengan Willy Caballero.

Namun tidak sampai dua menit, City malah berhasil membalas kembali melalui gol Aguero (seperti yang sudah dijelaskan pada sub-bab sebelum ini).

Unggul 2-1 di babak pertama, City mencoba lebih mengendurkan permainan mereka lagi di babak kedua dengan mengganti Sterling (winger kanan) dengan Yaya Toure (gelandang tengah). Hal ini dimaksudkan untuk menstabilkan lini tengah City, sambil mengistirahatkan para pemainnya melalui tempo rendah karena City akan menghadapi Chelsea di tengah pekan.

City memang mengendurkan permainan dan Arsenal pun mendominasi. Tapi setelah kebobolan melalui gol Mustafi, yang terjadi justru sebaliknya, yaitu City dominan dan Arsenal didikte.

Tekanan Blok Tinggi dan Tidak Rapihnya Lini Tengah Kedua KesebelasanFoto: Pandit Football Indonesia

Gambar 4 – Perbandingan operan Arsenal (kiri) dan Manchester City (kanan) pada babak kedua – Sumber: Squawka

Arsenal sebenarnya bisa memanfaatkan hal ini dengan melakukan serangan balik. Merekapun memasukkan Olivier Giroud. Tapi sampai akhir pertandingan, Giroud tidak memberikan dampak apa-apa karena kurangnya dukungan dari para pemain The Gunners.

Kesimpulan: Bersambungnya nasib Arsene Wenger

Organisasi lini tengah kedua kesebelasan sama-sama sedang tidak bagus. Jalannya pertandingan mungkin akan berubah banyak jika Santiago Cazorla bisa bermain untuk Arsenal dan juga Ilkay Gundogan untuk City. Sebagai hasilnya, skor imbang 2-2 dengan “jual-beli serangan” terlihat menarik, padahal hal ini justru menunjukkan pertandingan yang tidak rapih dan cenderung terburu-buru.

Pertandingan semalam menunjukkan jika menyerang sama pentingnya dengan bertahan, karena ketika kesebelasan aktif menyerang, mereka tidak boleh meninggalkan pertahanan sehingga menjadi tidak aman dan rentan diserang balik.

Arsenal juga dinilai beruntung karena tidak mendapatkan penalti di menit akhir saat Nacho Monreal diduga melakukan handball.

[Baca selengkapnya: Pengakuan Nacho Monreal kepada Sergio Aguero]

Sementara pertanyaan apakah Wenger akan bertahan atau pergi harus tertunda karena hasil imbang ini. Andaikan Arsenal kalah, mungkin desakan Wenger untuk pergi akan semakin kencang, dan juga sebaliknya. Jadi, secara tidak langsung hasil imbang ini memang sedikit mengecewakan.

Manchester City dan Arsenal sendiri akan bertemu kembali di semi-final Piala FA di akhir bulan ini. Ini berarti salah satu dari kesebelasan ini akan berlaga di pertandingan puncak di Wembley pada akhir musim nanti. (din/din)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *